Review Bokutachi no Remake: Konflik Palsu

Bokutachi no Remake memberitahu kita bahwa waktu dapat diulang kembali. Penyesalan yang selama ini kita pendam, karena suatu alasan tertentu ternyata bisa diubah. Sesuatu yang barangkali membuat beberapa orang menjadi semakin frustasi ketika menyadari bahwa ada perbedaan besar antara anime dengan dunia nyata. 
Anime Bokutachi no Remake
Review Bokutachi no Remake
Tema time travel bukanlah suatu hal baru dalam dunia anime. Terlebih lagi, ada satu benang merah yang biasanya selalu menghubungkan anime seperti ini. Apa itu? Penyesalan. Apa alasannya juga aku sendiri kurang tahu pasti. Jika boleh menebak, mungkin mereka berusaha membuatnya menjadi sesuatu yang relatable. Karena penyesalan pasti dirasakan semua orang, tidak peduli sehebat apa dia. 

Tema yang menurutku cukup serius. Hal itu juga semakin nyata ketika tokoh utama Bokutachi no Remake adalah seorang berusia 28 tahun yang baru saja kehilangan pekerjaannya dan harus kembali ke rumah orang tuanya. Momen yang membuat siapa pun berpikir, seandainya saja dulu aku memilih...... Dari hal itulah cerita dimulai. 

Pilihan Hidup

Pilihan A yang telah kita pilih pada akhirnya berujung pada suatu kegagalan. Kita akhirnya menyesal dan berharap kembali ke garis start di mana kita memilih pilihan B yang barangkali akan berakhir lebih baik. Itulah premis utama dalam Bokutachi no Remake. 

Ketika kehilangan pekerjaannya, Kyouya melihat bahwa teman-teman seuasianya yang disebut generasi Platinum telah sukses sebagi seorang seniman. Dia pun berpikir, kalau saja dulu dia berani mengambil langkah dengan memasuki jurusan seni ketimbang bermain aman di jurusan ekonomi, apa nasibnya akan lebih baik? 

Sesuatu yang sangat wajar bila Kyouya mengharapkan hal itu. Manusia yang tidak tahu masa depan memang kerap kali bersalah. Aku mengerti dengan jelas apa yang dia rasakan karena telah mengalaminya. 

Di tengah tangisannya, dia pun tertidur. Ketika terbangun, di situlah keajaiban terjadi; dia kembali ke masa 10 tahun lalu yaitu tahun 2006, di mana dia berkesempatan untuk mewujudkan mimpinya dengan memasuki jurusan seni visual. Momen yang sedikit memilukan ketika aku tahu hal seperti itu mustahil terjadi di dunia nyata.

Anime ini sedikit mirip dengan Blue Period karena sama-sama-sama mengisahkan seseorang yang ingin mengejar mimpinya. Bedanya hanya yang satu mendapatkan pencerahan ketika masih sekolah, sementara yang ini melalui keajaiban memutar waktu. 

Fan Service yang Mengganggu

Ada momen ketika fan service adalah sesuatu yang kusukai, tapi di sini, itu semua hanyalah bumbu pemanis yang justru merusak rasa. Seperti micin kadaluwarsa yang dimasukkan ke bahan masakan. 

Anime ini mengangkat topik yang serius yang membuat banyak orang merasa terhubung dengannya; penyesalan. Mencoba membuat kita lebih santai barangkali adalah sesuatu yang coba mereka lakukan, tapi bagiku, itu tidak berguna sama sekali, dan malah menambah kesan kalau mereka sedang bermain-main. 

Jika hanya satu atau dua, kurasa aku bisa memakluminya. Namun di sini, cewek-cewek yang jadi teman kos Kyouya terus mereka jadikan sebagai objek pemuas tersebut. Terlebih ketika mereka ternyata memiliki perasaan khusus pada Kyouya. Nanako bahkan sampai berkata kalau dia tidak akan kalah dengan Aki Shino dalam mendapatkan yang Mulia Kyouya. 

Harem adalah sesuatu yang biasanya kuhindari, terutama dalam anime isekai. Karakter utama yang seharusnya berpetualang dan mengalahkan musuh, malah sibuk ngumpulin harem, membuatnya yang seharusnya belok kanan malah banting setir ke kiri. 

Kyouya untungnya mirip dengan Luth dari Ansatsu Kizoku. Mereka bisa saja ngeharem kapan pun mereka mau, tapi untungnya mereka tidak lupa dengan alasan kepergiannya. Mereka bisa menjaga diri dari godaan.

Bekal Segudang yang Coba Disamarkan

Satu hal lagi yang menakjubkan dari proses perpindahan Kyouya adalah dia juga membawa semua pengalaman dan pengetahuannya. Apa yang kurang hanyalah dia tidak tahu alasannya, tapi itu tidak penting. Apa yang penting hanyalah apakah dengan 10 tahun pengalamannya, dia bisa berhasil? 

Ada satu elemen dalam penulisan cerita yang disebut komplikasi. Bokutachi no Remake sendiri yang membawa istilah ini padaku. Pada dasarnya, itu adalah faktor untuk menjegal kemampuan MC agar tidak menjadi OP. Hal itulah yang coba dilakukan pada Kyouya sebagai karakter utama. 

Dengan bekal 10 tahunnya, wajar jika kita berpikir dia akan menyelesaikan dunia barunya dengan mudah. Maka hadirlah Kanasegawa dengan pengetahuan  super luas, dan teman-teman kosnya yang merupakan mahasiswa berbakat. Pengetahuan teknis dan bakat, dua hal itu jika bertemu time traveler 10 tahun di masa depan, manakah yang lebih hebat? 

Anime ini mencoba menggiring opini kita agar berpikir bahwa Kyoyya tidaklah OP. Bahwa Bokutachi no Remake adalah anime yang menitikberatkan perjuangan di atas kemampuan supernatural. Untuk menilai berhasil atau tidaknya mereka, kita perlu melihatnya lebih jauh.  

Semua Tentang Kyouya

Karakter utama sudah sewajarnya mendapatkan perhatian lebih. Kyouya adalah sudut pandang utama kita dalam Bokutachi no Remake. Melalui dia kita akan menyelami susah senang menjadi mahasiswa jurusan seni, terlebih ketika dia bersama temannya mulai membuat game

Dia akan terlihat dalam semua proyek potensial yang ada. Proyek yang lebih tepatnya, segala sesuatu yang bisa membuatnya terlihat semakin hebat dan dapat diandalkan. 

Mengacu pada topik sebelumnya ketika aku menyinggung masalah karakter utama yang coba di-nerf. Setelah menonton lebih jauh, aku yakin semua orang setuju bahwa pada akhirnya Kyouya adalah pemenangnya. Bakat dan pengetahuan teknis memang penting, tapi di hadapan time traveler serba bisa seperti Kyouya, itu semua bagai remahan roti. Upaya mereka untuk meredam Kyouya tampaknya gagal total. 

Alih-alih menawarkan persaingan antar mahasiswa, terlebih dengan teman-teman sekamarnya yang berbakat, Bokutachi no Remake justru memilih jalan di mana semua akan tunduk pada Kyouya. Bukan seperti diktator bermodal kekuasaan. Dia sebenarnya menggunakan cara yang jauh lebih halus; dengan kemampuan menyelesaikan masalah. Salah satu hal yang paling dibutuhkan oleh seorang pemimpin, dan Kyouya menguasainya dengan sangat baik. 

Percayakan saja pada Kyouya! Kyouya pasti bisa melakukannya! Semua akan baik-baik saja selama ada Kyouya! Kira-kira itulah kalimat yang paling sering mereka ucapkan mengenai Kyouya. Sepanjang durasi berjalan, kita diminta untuk menyaksikan itu semua. Layak atau tidaknya, bagiku dia memang pantas mendapatkannya. 

Aku tidak paham dengan dunia pengembangan gim miliknya, tapi Bokutachi no Remake mampu membuat situasi terasa menegangkan dan memojokkan, seolah mereka telah kehilangan harapan, dan di sanalah Kyouya tampil menjadi pahlawan penyelamat. 

Terasa Janggal

Bagiku seni selalu erat hubungannya dengan kreativitas. Di negara kita, mahasiswa yang berasal dari jurusan ini terkadang memperlakukan hal ini bahkan pada tubuhnya sendiri, membiarkan rambutnya gondrong melebihi bahu, memakai pakaian anti mainstream, memasang tato, dan sebagainya. Semuanya sebagai simbol kebebasan berekspresi. 

Kyouya entah mengapa sepertinya tidak paham hal itu. Atau mungkin akunya saja yang tidak tahu apa-apa tentang pekerjaan di bidang seni. 

Dia dengan segala kebenarannya selalu berlindung di balik kata "Kompromi". Terus memaksakan kehendaknya pada teman-temannya, terlebih ketika dia tahu kalau mereka tidak akan membantah karena mereka sadar Kyouya bagaikan dewa yang ucapannya selalu benar. Lantas jika kebebasan itu selalu dikekang, bagaimana kreativitas bisa muncul, Kyouya? 

Aku tidak tahu pasti apakah yang kutulis ini adalah kebenaran atau bukan, jika iya, bagaimana mungkin Kyouya tidak paham? Padahal salah satu topik utama yang diangkat adalah perihal masalah ini. Terus jika sumber permasalahannya ternyata hanya karena kenaifan, atau Kyouya yang pura-pura nggak tahu, apakah Bokutachi masih layak ditonton? Mengangguk pun rasanya susah. 

Terlebih ketika kita sebagai penonton, dan Kyouya sebagai pelaku tahu bahwa kawan-kawan sekosnya bukanlah orang sembarangan. Bagaimana mungkin Kyouya yang sempat minder dihadapan mereka, berubah menjadi bang jago? Apa karena dipuji terus? 

Sok Merendah

Ada kesamaan yang dimiliki beberapa karakter Bokutachi no Remake; sok merendah. Mereka yang pada dasarnya sangat berbakat, justru merasa minder dan tidak bisa apa-apa. 

Persis seperti yang sering terjadi di sekitar kita, seorang cewek berwajah cantik dan mulus, dengan "kerendahan hatinya" justru berkata, "Kapan ya aku bisa cantik?" Atau cewek langsing dengan tubuh ideal malah bilang, "Wah aku gendutan ya akhir-akhir ini." Alasannya tentu saja karena mereka kurang perhatian. 

Dalam dunia anime, kurangnya perhatian juga bisa menjadi alasan. Akan tetapi, ada satu hal yang lebih penting, itu adalah celah untuk mengeratkan hubungan antar karakter. Ketika tiap karakter saling membantu menyelesaikan masalahnya, sudah sewajarnya mereka menjadi makin akrab. Sayangnya cara ini terkesan kurang kreatif. Merendah ketika mereka sebenarnya berbakat bukanlah sesuatu yang menarik. 

Tsurayuki malah terasa lebih realistis. Dia berbakat dan dia bangga akan hal itu. Kerendahan dirinya justru dimulai ketika konfliknya dengan Kyouya. Memahaminya justru lebih mudah karena konflik itu terjadi berkat hubungan sebab-akibat yang masuk akal. 

Apa Artinya? 

Kyouya selalu berperan aktif membantu rekan-rekannya yang kesusahan. Dia adalah tipikal teman yang selalu bisa diandalkan. Beberapa kali melihatnya melakukan itu memang tidak ada yang terasa aneh. 

Episode demi episode berlalu, kawan-kawan yang dari tadi selalu kusebut berbakat perlahan mulai terungkap. Siapa sebenarnya mereka? Untuk menemukan jawabannya, kalian tidak perlu menunggu hingga bagian akhir, satu jawaban bahkan sudah muncul di episode pertama. 

Ketika jawaban itu muncul, muncullah satu pertanyaan, sebenarnya untuk apa Kyouya melakukan itu semua? Kesan yang selama ini muncul padanya adalah dia pintar dan bisa diandalkan, tapi tahukah kalian bahwa dia baru menyadari pertanyaan itu ketika semuanya sudah terlambat. 

Dia selalu tampak pintar di keadaan terdesak, tapi ketika alur cerita membutuhkannya untuk menjadi bodoh, dia pun akan menjadi bodoh saat itu juga. Sungguh aneh melihat karakter plin-plan seperti ini. 

Jika saja dia menyadarinya lebih cepat, dan memaksa untuk mengambil risiko dengan mempertaruhkan teman-temannya, malah menurutku itu lebih baik. Kenapa? Karena Kyouya adalah problem solver yang handal. Ingatlah bahwa semua karakter berkata demikian jika membahasnya. 

Kesimpulan - 2/5

Bokutachi no Remake tidak sepenuhnya buruk. Kenyataannya bahwa aku mampu menonton semua episodenya membuktikan hal itu. Apa yang paling tidak kusukai dari anime ini adalah Kyouya yang tidak konsisten, serta masalah yang malah terkesan dibuat-buat sendiri agar terkesan memiliki konflik berbobot. 

Jika ada yang bagus, mungkin itu adalah cuplikan pelajaran dari dunia perkuliahan jurusan seni visual yang bisa kita dapat tanpa harus membayar SPP. 

0 Komentar